Membangun Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Teori, Dinamika, dan Intervensi

Penulis

Seger Handoyo
Universitas Airlangga
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.20473/aup.1689

Kata Kunci:

kesehatan mental, Human Resource Management, intervensi organisasi, psikologi industri dan organisasi

##submission.synopsis##

Kesehatan mental saat ini menjadi persoalan yang mengemuka, dan persoalan kesehatan mental tidak lagi dilihat semata sebagai persoalan orang per orang, namun sudah dianggap sebagai persoalan publik yang strategis. Isu kesehatan mental saat ini menjadi isu publik yang strategis karena dampaknya meluas ke ranah publik seperti keluarga, tempat kerja, dan bahkan negara. Masalah kesehatan mental berhubungan langsung dengan kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, stabilitas sosial, dan keberlanjutan pembangunan. Gangguan kecemasan, depresi, stres kronis, dan kelelahan psikologis terbukti memengaruhi kemampuan belajar, kemampuan bekerja, membangun relasi sosial, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Secara individual, kesadaran orang akan kesehatan mental semakin besar. Orang tidak lagi malu-malu untuk menceritakan kondisi dirinya yang mengalami gangguan. Orang lebih terbuka membicarakan kecemasan, kelelahan emosional, dan kebutuhan akan dukungan psikologis. Jaman dulu, persoalan kesehatan mental dianggap sebagai persoalan ketahanan diri masing- masing orang, sehingga ketika orang mengalami stres dia menilai dirinya yang salah, karena kurang kuat atau kurang mampu melakukan adaptasi terhadap tuntutan hidupnya. Saat ini orang mempercayai bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya persoalan ketahanan diri, namun juga persoalan struktural dan lingkungan. Sebagian besar waktu bagi kita yang di usia produktif, kita pergunakan untuk berada di organisasi atau perusahaan. Dampak struktural dan lingkungan tempat kerja menjadi faktor penting kesehatan mental kita. Oleh karena itu, penting kita memahami kesehatan mental di tempat kerja. Pemahaman yang baik dan mendalam tentang kesehatan mental di tempat kerja akan membantu orang per orang untuk dapat memahami kondisi dirinya sebagai karyawan dan kondisi lingkungan kerjanya dengan baik, sehingga dapat mengelola diri dan membangun kesehatan mentalnya. Bagi manajemen dan pimpinan organisasi atau perusahaan, pemahaman yang menyeluruh tentang kesehatan mental di tempat kerja akan memberikan kemampuan untuk membuat program kesehatan mental di organisasi atau perusahaannya secara komprehensif, sehingga efektivitas program akan lebih terjamin dan produktivitas kerja akan dapat diperoleh secara berkelanjutan.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

American Psychological Association. (2022). APA dictionary of psychology. American Psychological Association.

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The Job Demands–Resources model: State of the art. Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328. https://doi.org/10.1108/02683940710733115

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2014). Job demands–resources theory. Dalam C. L. Cooper & P. Y. Chen (Ed.), Wellbeing: A complete reference guide (Vol. 3, hlm. 37–64). Wiley-Blackwell.

Bakker, A. B., Demerouti, E., & Euwema, M. C. (2005). Job resources buffer the impact of job demands on burnout. Journal of Occupational Health Psychology, 10(2), 170–180. https://doi.org/10.1037/1076-8998.10.2.170

Demerouti, E., Bakker, A. B., Nachreiner, F., & Schaufeli, W. B. (2001). The Job Demands–Resources model of burnout. Journal of Applied Psychology, 86(3), 499–512. https://doi.org/10.1037/0021-9010.86.3.499

Diener, E. (1984). Subjective well-being. Psychological Bulletin, 95(3), 542–575. https://doi.org/10.1037/0033-2909.95.3.542

Dollard, M. F., & Bakker, A. B. (2010). Psychosocial safety climate as a precursor to conducive work environments, psychological health problems, and employee engagement. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 83(3), 579–599. https://doi.org/10.1348/096317909X470690

Dollard, M. F., & McTernan, W. (2011). Psychosocial safety climate: A multilevel theory of work stres in the health and community service sector. Epidemiology and Psychiatric Sciences, 20(4), 287–293. https://doi.org/10.1017/S2045796011000586

Dollard, M. F., Dormann, C., Boyd, C. M., Winefield, A. H., & Winefield, H. R. (2003). Unique aspects of stres in human service work. Australian Psychologist, 38(2), 84–91. https://doi.org/10.1080/00050060310001707100

Dollard, M. F., Opie, T., Lenthall, S., Wakerman, J., Knight, S., Dunn, S., & Rickard, G. (2012). Psychosocial safety climate as an antecedent of work characteristics and psychological strain: A multilevel model. Work & Stres, 26(4), 385–404. https://doi.org/10.1080/02678373.2012.734154

Handoyo, S. (2001). Stres kerja dan manajemen stres. Surabaya, Indonesia: Airlangga University Press.

Hobfoll, S. E. (1989). Conservation of resources: A new attempt at conceptualizing stres. American Psychologist, 44(3), 513–524. https://doi.org/10.1037/0003-066X.44.3.513

Hobfoll, S. E. (1998). Stres, culture, and community: The psychology and physiology of stres. Plenum Press.

Hobfoll, S. E. (2001). The influence of culture, community, and the nested-self in the stres process: Advancing conservation of resources theory. Applied Psychology: An International Review, 50(3), 337–421. https://doi.org/10.1111/1464-0597.00062

Hobfoll, S. E., & Lilly, R. S. (1993). Resource conservation as a strategy for community psychology. Journal of Community Psychology, 21(2), 128–148. https://doi.org/10.1002/1520-6629(199304)21:2<128::AID-JCOP2290210206>3.0.CO;2-5

Unduhan

BISAC

  • JNF044000 Juvenile Nonfiction / Social Science / Psychology
  • HEA055000 Health & Fitness / Mental Health

##catalog.published##

February 6, 2026

##series.series##

##catalog.categories##

##monograph.miscellaneousDetails##

##monograph.publicationFormat.productDimensions##