MSG DAN DAMPAK TERATOGENIK PADA EMBRIO : Studi pada Hewan dan Manusia

Authors

ERIZA PUTRI AYU NING TIAS, S.Pd
Universitas Airlangga
Prof. Erma Safitri, drh., M.Si,
Universitas Airlangga
M Galih Wicaksono, S.Pd
Universitas Airlangga
Endang Setyaningsih, M.Si
Universitas Airlangga
Daniar Eka Nur Fauziah
Universitas Airlangga
Dr. Tjuk Imam Restiadi drh., M.Si
Universitas Airlangga
Prof. Dr. Widjiati M.Si., Drh
Universitas Airlangga

Keywords:

teratogenik, teratologi, embriologi, toksikologi

Synopsis

Monosodium Glutamat (MSG) atau yang lebih dikenal dengan sebutan micin, merupakan salah satu bahan tambahan makanan yang paling umum digunakan di seluruh dunia. MSG dikenal karena kemampuannya meningkatkan rasa gurih atau umami pada makanan, sehingga makanan terasa lebih lezat dan memuaskan. MSG sulit dikurangi penggunaannya karena beberapa faktor. Pertama, MSG sangat efektif sebagai penambah rasa. Bekerja dengan meningkatkan sensitivitas reseptor rasa di lidah, sehingga makanan terasa lebih enak. Kedua, MSG digunakan secara luas dalam industri makanan karena harganya yang murah dan kemampuannya untuk membuat makanan terasa lebih enak tanpa perlu menambahkan bahan-bahan mahal lainnya. Ketiga, MSG mudah ditemukan di pasaran dengan harga yang terjangkau. Untuk mengurangi ketergantungan pada MSG, diperlukan upaya edukasi masyarakat tentang potensi risiko kesehatan dari konsumsi MSG berlebihan dan pentingnya pola makan sehat. Selain itu, diperlukan regulasi yang ketat tentang penggunaan MSG dalam makanan olahan dan pelabelan yang jelas pada produk makanan. Inovasi dalam industri makanan juga diperlukan untuk mengembangkan bahan tambahan makanan alami yang dapat menggantikan MSG tanpa mengurangi cita rasa makanan. Meskipun MSG diakui aman oleh badan pengawas makanan seperti Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO), kontroversi mengenai dampak kesehatannya terus menjadi perdebatan, terutama terkait efeknya pada sistem reproduksi dan perkembangan embrio hingga menyebabkan teratogenik. Efek teratogenik, yaitu kemampuan suatu zat untuk menyebabkan cacat lahir atau gangguan perkembangan pada embrio, menjadi salah satu topik yang menarik perhatian para peneliti. Beberapa studi pada hewan menunjukkan bahwa paparan MSG selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan perkembangan saraf, perubahan morfologi organ, dan penurunan berat badan janin. Meskipun bukti pada manusia masih terbatas, temuan ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi risiko MSG terhadap kesehatan reproduksi dan perkembangan janin. MSG telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan modern. Namun, dampaknya terhadap kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil dan janin, masih kurang dipahami secara menyeluruh. Paparan MSG selama kehamilan dapat memiliki implikasi serius bagi perkembangan janin. Pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme dan faktor risiko dapat membantu mencegah cacat lahir dan gangguan perkembangan. Buku ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam dampak teratogenik MSG pada embrio, baik pada hewan coba maupun manusia. Dengan menggabungkan hasil penelitian terkini dan analisis kritis, buku ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif tentang mekanisme biologis, faktor risiko, dan implikasi kesehatan dari paparan MSG selama kehamilan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Chahoud, I., & Paumgartten, F. J. (2009). Influence of litter size on the postnatal growth of rat pups: is there a rationale for litter-size standardization in toxicity studies?. Environmental research, 109(8), 1021-1027.

Chandrashekar, J., Hoon, M. A., Ryba, N. J., & Zuker, C. S. (2006). The receptors and cells for mammalian taste. Nature, 444(7117), 288–294.

Campion, M., Smith, L., Gatault, S., Métais, C., Buddenkotte, J., & Steinhoff, M. (2019). Interleukin‐4 and interleukin‐13 evoke scratching behaviour in mice. Experimental dermatology, 28(12), 1501-1504.

Chaudhari, N., Yang, H., Lamp, C., Delay, E., Cartford, C., Than, T., & Roper, S. (1996). The taste of monosodium glutamate: membrane receptors in taste buds. The Journal of neuroscience, 16(12), 3817–3826. https://doi.org/10.1523/JNEUROSCI.16-12-03817.1996

Chen, X., Jin, R., Yang, A., Tian, J., Li, X., Zhang, Y., & Hou, Y. (2023). Behavioral and physiological differences in female rabbits at different stages of the estrous cycle. Animals, 13(21), 3414. https://doi.org/10.3390/ani13213414

Chubb, C., Ewing, L., Irby, D., & Desjardins, C. (1978). Testicular maturation in the rabbit: Secretion of testosterone, dihydrotestosterone, 5α-androstan-3α, 17β-diol and 5α-androstan-β, 17β-diol by perfused rabbit testes-epididymides and spermatogenesis. Biology of Reproduction, 18(2), 212–218. https://doi.org/10.1095/biolreprod18.2.212

Collison, K. S., Maqbool, Z., Saleh, S. M., Inglis, A., Makhoul, N. J., Bakheet, R., Al-Johi, M., Al-Rabiah, R., Zaidi, M. Z., & Al-Mohanna, F. A. (2009). Effect of dietary monosodium glutamate on trans fat-induced nonalcoholic fatty liver disease. Journal of lipid research, 50(8), 1521–1537. https://doi.org/10.1194/jlr.M800418-JLR200

Cook, C., Vezina, C. M., Allgeier, S. H., Shaw, A., Yu, M., Peterson, R. E., & Bushman, W. (2007). Noggin is required for normal lobe patterning and ductal budding in the mouse prostate. Developmental biology, 312(1), 217–230.

Corradi, P. F., Corradi, R. B., & Greene, L. W. (2016). Physiology of the hypothalamic pituitary gonadal axis in the male. The Urologic Clinics of North America, 43(2), 151–162. https://doi.org/10.1016/j.ucl.2016.01.001

BISAC

  • MED096000 Medical / Toxicology
  • MED022000 Medical / Diseases

Published

February 27, 2026

Details about the available publication format: Preview

Preview

Physical Dimensions